Senin, 18 Agustus 2008

Merdekalah Negeriku, Merdekalah Bangsaku


Proklamasi

Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia

Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan d.l.l., diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Jakarta, hari 17, bulan 8, tahun 45

Wakil2 bangsa Indonesia.

----------------------------------------------------------------------------------
63 tahun yang lalu di halaman sebuah rumah yang beralamatkan Jl. Pegangsaan Timur 56, tepatnya pukul 10.00 WIB tanggal 17 Agustus 1945 yang juga bertepatan tanggal 17 Ramadhan 1365, Ir. Sukarno dengan lantang membacakan teks tersebut diatas yang kemudian dilanjutkan dengan pidato tanpa teks dan saat itulah kemerdekaan bangsa ini diploklamirkan. Merdeka…!!

Mungkin saat itu ribuan masyarakat negara ini bergembira, menangis, bersyukur bahwa cita-cita yang selama ini mereka impikan telah terwujud. Mereka yang selama ini terhimpit dalam tekanan, yang selama ini tersiksa dalam kekejaman, yang selama ini terkukung dalam penjajahan mulai merasakan udara segar kebebasan dan kemerdekaan.

Ingatan ketika harus bertempur melawan portugis di abad ke-15 dan 16, ketika harus berhadapan dengan bangsa sendiri karena politik adu domba Belanda, ketika komoditi rempah-rempah kita disedot habis oleh VOC dengan sistem monopolinya, ketika bambu runcing harus berhadapan dengan senjata mesin milik pasukan Daendels, ketika harus berontak melawan Jepang dibawah Pembela Tanah Air (PETA), semua terlintas begitu saja dibenak mereka.

Saat ini…, 63 tahun setelah teks tersebut di ploklamirkan, setelah bendera yang dengan penuh perasaan dijahit oleh tangan terampil Ibu Fatmawati dikibarkan, setelah Latief Hendraningrat dan Soehoed sebagai pasukan pengibar bendera pertama kali menaikkan Sang Saka, pernahkah terlintas di otak kita mengenai perjuangan mereka…! Atau mungkin pernahkah kita bertanya ‘Apa yang telah kuberikan bagi bangsa ini!??’

Deje sendiri kadang merasa malu, ketika momen 17 Agustus tiap tahun dilalui tanpa adanya intopreksi yang membangun, ketika bilangan usia kemerdekaan terus bertambah satu demi satu yang berubah hanya logo di beberapa gang-gang perumahan dari 50, 51, … terus berlanjut sampai 61, 62, dan sekarang 63.., Sementara keadaan kita masih cukup memprihatinkan…? Negara ini tak ubahnya masih dalam tekanan pihak asing, masih harus disedot sumberdaya alamnya oleh jagoan-jagoan monopoli, masih diadu domba oleh kekuatan abstrak.

Akankah fenomena ini terus berlanjut…!?? Hanya kita bangsa Indonesia yang mampu menjawab dengan perbuatan, bukankah slogan ‘Hidup adalah perbuatan’ sering kita saksikan dilayar tipi, bukankah semanga ‘If there is a will, there is a way’ sering dilontarkan. Ayo saudara sebangsa dan setanah air… tunjukkan kemauan kalian lalu tunjukkan dengan perbuatan, maka akan ada jalan…

Merdeka…!

nb : hanya sebuah tulisan tak layak tentang negara ini….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar