Jumat, 29 Agustus 2008

Kisah Tukang Ledeng


Suatu hari bos Mercedez Benz mempunyai masalah dengan kran air dirumahnya.Kran itu selalu bocor hingga dia kawatir anaknya terpeleset jatuh . Atas rekomendasi seorang temannya , Mr. Benz menelpon seorang tukang ledeng untuk memperbaiki kran miliknya .

Perjanjian perbaikan ditentukan 2 hari kemudian karena si tukang ledeng rupanya cukup sibuk . Si tukang ledeng sama sekali tidak tahu bahwa si penelpon adalah bos pemilik perusahaan mobil terbesar di Jerman .

Satu hari setelah ditelpon Mr.Benz , pak tukang ledeng menghubungi Mr.Benz untuk menyampaikan terima kasih karena sudah bersedia menunggu satu hari lagi .
Bos Mercy-pun kagum atas pelayanan dan cara berbicara pak tukang ledeng .

Pada hari yang telah disepakati , si tukang ledeng datang ke rumah Mr.Benz untuk memperbaiki kran yang bocor . Setelah kutak sana kutak sini , kranpun selesai diperbaiki dan pak tukang ledeng pulang setelah menerima pembayaran atas jasanya .Sekitar 2 minggu setelah hari itu , si tukang ledeng menghubungi Mr.Benz untuk menanyakan apakah kran yang diperbaiki sudah benar-benar beres atau masih timbul masalah ?

Mr.Benz berpikir pasti orang ini orang hebat walaupun cuma tukang ledeng . Mr. Benz menjawab di telepon bahwa kran dirumahnya sudah benar-benar beres dan mengucapkan terima kasih atas pelayanan pak tukang ledeng .

Tahukah anda bahwa beberapa bulan kemudian Mr. Benz merekrut si tukang ledeng untuk bekerja di perusahaannya ?

Ya , namanya Christopher L.Jr . Saat ini beliau adalah General manager Customer Satisfaction and Public Relation di Mercedez Benz !
Renungan :
Jangan lupa dan aplikasikan dalam tingkah laku sehari hari :

1. Masukkan hanya informasi dan nasehat bergizi untuk otak kita . Jangan pernah memberinya sampah .

2. Jangan sampai rasa takut mengalahkan kita . Hadapi dia face to face !

3. Tersenyumlah dengan tulus hingga gigi kita terlihat dan Jadilah orang yang menyenangkan .

4. Selalu tambahkan keju dan pelayanan terbaik walaupun itu tidak diminta.

Senin, 18 Agustus 2008

Merdekalah Negeriku, Merdekalah Bangsaku


Proklamasi

Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia

Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan d.l.l., diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Jakarta, hari 17, bulan 8, tahun 45

Wakil2 bangsa Indonesia.

----------------------------------------------------------------------------------
63 tahun yang lalu di halaman sebuah rumah yang beralamatkan Jl. Pegangsaan Timur 56, tepatnya pukul 10.00 WIB tanggal 17 Agustus 1945 yang juga bertepatan tanggal 17 Ramadhan 1365, Ir. Sukarno dengan lantang membacakan teks tersebut diatas yang kemudian dilanjutkan dengan pidato tanpa teks dan saat itulah kemerdekaan bangsa ini diploklamirkan. Merdeka…!!

Mungkin saat itu ribuan masyarakat negara ini bergembira, menangis, bersyukur bahwa cita-cita yang selama ini mereka impikan telah terwujud. Mereka yang selama ini terhimpit dalam tekanan, yang selama ini tersiksa dalam kekejaman, yang selama ini terkukung dalam penjajahan mulai merasakan udara segar kebebasan dan kemerdekaan.

Ingatan ketika harus bertempur melawan portugis di abad ke-15 dan 16, ketika harus berhadapan dengan bangsa sendiri karena politik adu domba Belanda, ketika komoditi rempah-rempah kita disedot habis oleh VOC dengan sistem monopolinya, ketika bambu runcing harus berhadapan dengan senjata mesin milik pasukan Daendels, ketika harus berontak melawan Jepang dibawah Pembela Tanah Air (PETA), semua terlintas begitu saja dibenak mereka.

Saat ini…, 63 tahun setelah teks tersebut di ploklamirkan, setelah bendera yang dengan penuh perasaan dijahit oleh tangan terampil Ibu Fatmawati dikibarkan, setelah Latief Hendraningrat dan Soehoed sebagai pasukan pengibar bendera pertama kali menaikkan Sang Saka, pernahkah terlintas di otak kita mengenai perjuangan mereka…! Atau mungkin pernahkah kita bertanya ‘Apa yang telah kuberikan bagi bangsa ini!??’

Deje sendiri kadang merasa malu, ketika momen 17 Agustus tiap tahun dilalui tanpa adanya intopreksi yang membangun, ketika bilangan usia kemerdekaan terus bertambah satu demi satu yang berubah hanya logo di beberapa gang-gang perumahan dari 50, 51, … terus berlanjut sampai 61, 62, dan sekarang 63.., Sementara keadaan kita masih cukup memprihatinkan…? Negara ini tak ubahnya masih dalam tekanan pihak asing, masih harus disedot sumberdaya alamnya oleh jagoan-jagoan monopoli, masih diadu domba oleh kekuatan abstrak.

Akankah fenomena ini terus berlanjut…!?? Hanya kita bangsa Indonesia yang mampu menjawab dengan perbuatan, bukankah slogan ‘Hidup adalah perbuatan’ sering kita saksikan dilayar tipi, bukankah semanga ‘If there is a will, there is a way’ sering dilontarkan. Ayo saudara sebangsa dan setanah air… tunjukkan kemauan kalian lalu tunjukkan dengan perbuatan, maka akan ada jalan…

Merdeka…!

nb : hanya sebuah tulisan tak layak tentang negara ini….

Seberapa Bagus Kecerdasan Emosional Anda?


Oleh: Yodhia Antariksa

Semenjak Daniel Golemen menggagasnya dalam karya fenomenal bertajuk Emotional Intelligence, kini makin diyakini pentingnya makna kecerdasan emosional dalam merajut kanvas kehidupan yang dilimpahi oleh kesuksesan dan kebahagiaan. Kecerdasan intelektual ternyata hanya separo dari sebuah perjalanan. Ia mesti juga dilengkapi dengan kecerdasan emosional (dan juga kecerdasan spiritual) agar kita semua bisa menggapai hidup yang penuh arti kemuliaan.

Secara eksploratif, kecerdasan emosional sendiri pada dasarnya merujuk pada dua dimensi kunci yang mesti kita praktekkan dengan penuh kesempurnaan. Dimensi yang pertama adalah tentang dunia intra-personal – atau sebuah dunia sunyi untuk melihat dengan penuh kebeningan relung diri kita sendiri. Dimensi yang kedua adalah tentang dunia inter-personal – atau sebuah dunia dengan mana kita menghamparkan berderet perjumpaan dengan orang lain.

Baiklah kita akan segera membahas dua dimensi kunci itu secara intim. Namun sebelumnya, saya persilakan Anda untuk mereguk dulu kehangatan secangkir kopi atau teh yang sekarang mungkin ada disamping laptop/dekstop Anda. Seduhlah kehangatan itu sambil bersyukur bahwa hari ini Anda masih dilimpahi karunia untuk menikmati secangkir teh hangat…….

Oke, mari kita lanjutkan perbincangan kita. Dimensi yang pertama, seperti tadi disebutkan, berhubungan dengan dunia intra-personal. Dalam dimensi ini sendiri terdapat dua elemen yang mesti dicermati, yakni : self awareness dan self esteem.

Knowing yourself is the beginning of all wisdom, demikian filsuf Aristoteles pernah bersenandung. Maknanya jelas : kita tak akan pernah mampu mengenggam buah kebajikan tanpa kemampuan untuk secara jernih dan jujur menelisik setiap sudut raga dan jiwa kita. Kemampuan untuk secara bening menelusuri segenap jejak kelebihan dan potensi yang ada pada diri kita; dan juga sekaligus mau mengakui kekurangsempurnaan yang ada dalam diri kita dengan penuh kelapangan dada.

Dan dengan kesadaran-diri yang kokoh itulah, kita kemudian bergerak maju merajut self-esteem dengan optimal. Self-esteem sendiri bermakna tumbuh-mekarnya rasa respek pada diri sendiri – tanpa harus tergelincir menjadi arogan atau takabur. Sebaliknya, self esteem ini lebih mewujud pada tumbuhnya rasa bangga (self-pride) atas jati diri Anda dan juga terhadap segenap jejak karya dan impian yang tengah Anda ukir. Tanpa self-respect yang kuat, kita tak akan pernah mampu membangun respek pada orang lain. Dan tanpa self-esteem yang menjejak dengan kokoh, kita tak akan pernah melenting menjadi insan yang unggul, penuh kemuliaan dan bermartabat.

Dimensi kedua dari kecerdasan emosional berkaitan dengan dimensi inter-personal atau dunia tentang jalinan interaksi dengan orang lain (others). Disini terdapat dua elemen kunci yang juga layak diperhatikan, yakni elemen interaksi antar manusia dan elemen empati.

Kecerdasan emosional pada akhirnya amat berkaitan dengan ketrampilan kita dalam merajut relasi dengan orang lain (interpersonal relationship). Disitulah kemudian kita diuji untuk selalu bisa merekahkan pola relasi yang santun, penuh rasa respek dan saling-menghargai, serta dilimpahi spirit untuk berbuat baik kepada sesama. Disini pula kita diajak untuk selalu mampu menghadirkan rajutan komunikasi yang konstruktif dan suportif, dan bukan pola komunikasi yang dipenuhi rasa kedengkian dan negative thinking lainnya.

Dan kita tahu, segenap kecerdasan semacam diatas hanya bisa digelarkan jika kita juga diguyur oleh spirit empati yang kuat. Inilah sebuah sikap untuk mau memahami dan menghargai perasaan orang lain. Sebuah sikap untuk juga mau bersikap welas asih pada sesama. Sebuah sikap untuk selalu menghadirkan momen perjumpaan yang penuh keramahan, menebar kebaikan kepada sesama tanpa pamrih, dan menyodorkan jabat tangan erat dalam balutan rasa cinta dan empati.

Demikianlah empat tema utama yang menaungi makna kecerdasan emosional – yakni dimensi self awareness, self esteem, interpersonal relations dan empathic understanding. Kita mungkin tak tahu persis berapa kadar kecerdasan kita dalam empat dimensi kunci itu. Namun tampaknya kita selalu diminta untuk terus menebarkan benih kecerdasan itu dalam segenap jejak kehidupan kita; dalam roda waktu yang terus berputar.

Sebab hanya dengan itulah, kita lalu bisa tumbuh menjadi insan yang luhur dan penuh kemuliaan. Memuliakan hidup, memuliakan sesama. Bukankah ini salah satu tugas suci kita sebagai anak manusia?

Photo credit by Thomas Hawk under creative commons license

Minggu, 17 Agustus 2008

Arti Sebutir Beras


Cina yang sekarang muncul sebagai negara super power dahulunya pernah sangat miskin. Dengan jumlah penduduk yang berjumlah 1 milyar kala itu bukan barang mudah bagi pemerintah Cina untuk mensejahterakan rakyatnya.

Hutang luar negeri dari negara tetangga terdekat pun menjadi gantungan yaitu dari negara super power Uni Sovyet.

Alkisah suatu hari terjadi perselisihan paham antara Mao Zedong pemimpin Cina era itu dengan pemimpin Sovyet. Perselisihan begitu panas sampai keluar statement dari pemimpin Sovyet, '

“ Sampai rakyat Cina harus berbagi 1 celana dalam untuk 2 orang pun, Cina tetap tidak akan mampu membayar hutangnya. !'

Ucapan yang sangat menyinggung perasaan rakyat Cina itupun disampaikan Mao kepada rakyatnya dengan cara menyiarkannya lewat siaran radio, perihal penghinaan dari pemimpin Sovyet itu, secara terus menerus dari pagi hingga malam ke seluruh negeri sambil mengajak segenap rakyat Cina untuk bangkit dan melawan penghinaan tersebut dengan cara berkorban.

Ajakan Mao kepada rakyatnya adalah menyisihkan 1 ( satu ) butir beras, ya, hanya 1 butir beras untuk setiap anggota keluarga, setiap kali mereka akan memasak. Jika 1 rumah tangga terdiri dari 3 orang maka cukup sisihkan 3 butir beras.

Nah , beras yang disisihkan dari 1 Milyar penduduk Cina tersebut, tidak dikorupsi tentunya akan menghasilkan 1 milyar butir beras setiap hari. Hasilnya dikumpulkan ke pemerintah untuk dijual. Uangnya digunakan untuk membayar hutang kepada negara pemberi hutang, yang telah menghina mereka.

Akhirnya Cina berhasil melunasi hutang mereka ke Sovyet dalam waktu yang sangat cepat.

Keterhinaan yang mendalam telah membangkitkan rasa nasionalisme Cina untuk bangkit melawan hinaan tersebut dengan tindakan nyata, bukan hanya tindakan seremonial, pidato atau upacara di stadion besar.

Kiranya kisah di atas bisa dijadikan contoh bagi bangsa kita yang tengah terpuruk di antara bangsa-bangsa sekitarnya dan saat ini sedang merayakan Dirgahayu Kemerdekaannya yang ke – 63.

Potensi manusia Indonesia yang demikian besar selama ini tidak menjadi kekuatan bahkan sebaliknya menjadi beban karena masih banyaknya tikus yang berada di lumbung beras Republik Indonesia

Kita sering silau oleh hal-hal besar namun seringkali mengabaikan kekuatan dari hal kecil yang tidak dilakukan dengan sepenuh hati.

Sebutir padi sehari bisa membalik keadaan terhina menjadi terangkat.
Maukah kita ?
Cina yang sekarang muncul sebagai negara super power dahulunya pernah sangat miskin. Dengan jumlah penduduk yang berjumlah 1 milyar kala itu bukan barang mudah bagi pemerintah Cina untuk mensejahterakan rakyatnya.

Hutang luar negeri dari negara tetangga terdekat pun menjadi gantungan yaitu dari negara super power Uni Sovyet.

Alkisah suatu hari terjadi perselisihan paham antara Mao Zedong pemimpin Cina era itu dengan pemimpin Sovyet. Perselisihan begitu panas sampai keluar statement dari pemimpin Sovyet, '

“ Sampai rakyat Cina harus berbagi 1 celana dalam untuk 2 orang pun, Cina tetap tidak akan mampu membayar hutangnya. !'


Ucapan yang sangat menyinggung perasaan rakyat Cina itupun disampaikan Mao kepada rakyatnya dengan cara menyiarkannya lewat siaran radio, perihal penghinaan dari pemimpin Sovyet itu, secara terus menerus dari pagi hingga malam ke seluruh negeri sambil mengajak segenap rakyat Cina untuk bangkit dan melawan penghinaan tersebut dengan cara berkorban.

Ajakan Mao kepada rakyatnya adalah menyisihkan 1 ( satu ) butir beras, ya, hanya 1 butir beras untuk setiap anggota keluarga, setiap kali mereka akan memasak. Jika 1 rumah tangga terdiri dari 3 orang maka cukup sisihkan 3 butir beras.

Nah , beras yang disisihkan dari 1 Milyar penduduk Cina tersebut, tidak dikorupsi tentunya akan menghasilkan 1 milyar butir beras setiap hari. Hasilnya dikumpulkan ke pemerintah untuk dijual. Uangnya digunakan untuk membayar hutang kepada negara pemberi hutang, yang telah menghina mereka.

Akhirnya Cina berhasil melunasi hutang mereka ke Sovyet dalam waktu yang sangat cepat.

Keterhinaan yang mendalam telah membangkitkan rasa nasionalisme Cina untuk bangkit melawan hinaan tersebut dengan tindakan nyata, bukan hanya tindakan seremonial, pidato atau upacara di stadion besar.

Kiranya kisah di atas bisa dijadikan contoh bagi bangsa kita yang tengah terpuruk di antara bangsa-bangsa sekitarnya dan sebentar lagi akan merayakan Dirgahayu Kemerdekaannya yang ke – 63.

Potensi manusia Indonesia yang demikian besar selama ini tidak menjadi kekuatan bahkan sebaliknya menjadi beban karena masih banyaknya tikus yang berada di lumbung beras Republik Indonesia

Kita sering silau oleh hal-hal besar namun seringkali mengabaikan kekuatan dari hal kecil yang tidak dilakukan dengan sepenuh hati.

Sebutir padi sehari bisa membalik keadaan terhina menjadi terangkat.
Maukah kita ?

Kamis, 14 Agustus 2008

Sikat Gigi

Tahukah Anda
Andriewongso.com


Untuk membersihkan sisa-sisa makanan dalam gigi, sikat gigi sering kita jadikan andalan. Cara pemakaiannya pun cukup mudah. Tinggal tambahkan pasta gigi di atasnya, maka sikat gigi siap digunakan. Tahukah Anda, ternyata sikat gigi sudah digunakan sejak zaman China kuno?

Sikat gigi mulai mucul sekitar tahun 1400-an dimana orang zaman China kuno menggunakan ranting pohon Willow untuk menggosok gigi. Tidak lama kemudian, alat untuk menyikat gigi berkembang menggunakan bulu rambut babi yang dipasang secara permanen pada gagang yang terbuat dari bambu atau tulang.

Sikat gigi pun berkembang tidak hanya di dataran China melainkan ke negara-negara lainnya. Pada tahun 1770, seorang warga berkebangsaan Inggris, William Addis membuat sikat gigi dan untuk pertama kalinya diproduksi secara masal tepatnya pada tahun 1780. Ide sikat gigi ciptaannya muncul pada saat ia berada di penjara. Ia dimasukkan ke dalam penjara karena sebuah keributan di mana ia terlibat di dalamnya.

Ketika dalam penjara, Addis mencoba mengambil tulang binatang kecil. Kemudian tulang tersebut ia lubangi kecil-kecil untuk menempelkan bulu yang ia peroleh dari pengawal. Hal ini ia lakukan karena sebelumnya untuk menyikat gigi ia menggunakan kain yang dicampur dengan jelaga dan garam.

Pada tahun 1857 untuk pertama kalinya sikat gigi dipatenkan oleh H.N. Wadsworth di Amerika Serikat. Kemudian pada tahun 1930, sesudah ditemukannya bahan nilon, bulu sikat gigi mulai menggunakan bahan nilon. Keinginan memiliki gigi yang bersih dan sehat melahirkan alat pembersih plak-plak gigi yang bernama sikat gigi. Kini sikat gigi pun menjadi alat yang digunakan setiap hari untuk menjaga kesehatan gigi dan telah mendunia.

Every One Is Number One


Oleh : Andrie Wongso

Jalanku bukanlah jalanmu, deritaku bukanlah deritamu
Setiap manusia memiliki potensi guna menaklukan segalanya
Airmataku bukan airmatamu, sakitku bukan sakitmu
Langit yang sama, kebanggaan yang berbeda, satu dalam perasaan.

Jangan gelisah dan menistai diri sendiri
Diperlukan ketenangan dan ketegaran
Asalkan mau menerjang ke depan, katakan pada diri sendiri, Aku dilahirkan pasti berguna!

Every one is number one,
Asalkan kau tidak selalu bertanya, mampu atau tidak. Satukan energi, raihlah mimpi di dalam hidupmu untuk menyongsong masa depan dan janganlah menunggu.

Every one is number one,
kunci sukses ada di tanganmu, mau atau tidak
Alirkan keringat yang paling panas, genggamlah hati yang paling tulus
Number one adalah milik setiap orang.

Tanganku bukan tanganmu, mulutku bukan mulutmu
Hanya dibutuhkan sebuah hati, badai dan hujan deras dapat menjadi kawan baik kita.

Janganlah takut dinginnya perjalanan walaupun sampai pada sedikitnya kehangatan yang tersisa. Aku tetap akan menerjang dengan sekuat tenaga.

Everyone is number one! Setiap Orang Adalah Nomer Satu ! Luar biasa!

Falsafah Lima Jari


1.. Ada si gendut jempol yang selalu berkata baik dan menyanjung.
2.. Ada telunjuk yang suka menunjuk dan memerintah.
3.. Ada si jangkung jari tengah yang sombong dan suka menghasut jari telunjuk.
4.. Ada jari manis yang selalu menjadi teladan, baik, dan sabar sehingga diberi hadiah cincin.

5.. Dan ada kelingking yang lemah dan penurut serta pemaaf ( ingatkah anda waktu kecil kalau kita berbaikan dengan musuh kita pasti saling sentuh jari kelingking?) .

Dengan perbedaan positif dan negatif yang dimiliki masing-masing jari, mereka bersatu untuk mencapai tujuan ( menulis, memegang, menolong anggota tubuh yg lain, melakukan pekerjaan, dll).

Pernahkah kita bayangkan bila tangan kita hanya terdiri dari jempol semua?
Falsafah ini sederhana namun sangat berarti.
Kita diciptakan dengan segala perbedaan yang kita miliki dengan tujuan untuk bersatu
, saling menyayangi
, saling menolong
, saling membantu
, saling mengisi

, bukan untuk saling menuduh
, menunjuk
, merusak
, dan bahkan membunuh.

Sudahkah kasih sayang Anda hari ini bertambah ?